Kita dan Budaya Positif (Berbagi sukacita dengan keluarga SMANSARA)

Tujuan mulia  dari  penerapan  disiplin positif agar terbentuknya murid-murid yang berkarakter, berdisiplin,  santun,  jujur,  peduli,  bertanggung jawab, dan  merupakan pemelajar  sepanjang hayat sesuai dengan kompetensi lulusan yang diharapkan. Dengan kata lain, seseorang yang memiliki  disiplin  diri berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal.

Peraturan   sekolah  yang  ada  saat  ini  hendaknya  bisa  dikupas  dan  ditumbuhkan  secara intrinsik kepada  murid,  apa keyakinan yang bisa diambil berdasarkan peraturan tersebut dan tentunya mengandung nilai kebajikan tersebut.

Gambar 1:  Lingkaran Pengaruh Budaya Positif

Jika  kita  ilustrasikan gambar di atas, peraturan mempunyai ruang lingkup yang kecil, bersifat sementara  dan  hanya  diingat  saat  peraturan itu ada, jika  kita  bisa menumbuhkan motivasi intrinsik  murid  untuk memahami keyakinan apa yang bisa dia  yakini maka ini akan lebih luas dari peraturan dan bersifat  lebih  lama, kemudian  jika  keyakinan dalam diri ini sudah tumbuh dengan  baik,  maka  lingkungan  positif  akan  tercipta  dengan  baik  dan semakin membesar menjadi budaya positif.

Lalu apa yang saya lakukan untuk menciptakan budaya positif?

Upaya kecil namun dilakukan dengan sungguh-sunggu pasti akan membuahkan hasil yang besar. Itulah yang menyemangati diri saya saat melakukan sesuatu yang baru. Seperti yang diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara bahwa Pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Artinya, bahwa hidup tumbuhnya anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kita kaum pendidik. Kita kaum pendidik hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan-kekuatan itu, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya itu. Inilah yang mengubah "rasa" saya terhadap murid bahwa sejatinya murid sudah mempunyai garis kehidupannya dan kita hanya bisa membantu menebalkan segala tulisan yang suram dan yang berisi baik, agar kelak nampak sebagai budi pekerti yang baik. Segala tulisan yang mengandung arti jahat hendaknya dibiarkan, agar jangan sampai menjadi tebal, bahkan makin suram.

Cara untuk menebalkan garis laku yang baik, di antaranya adalah menjaga dan menuntun perilaku murid melalui kesepakatan kelas atau keyakinan kelas. Saya melakukan kesepakatan dengan murid di awal kegiatan pembelajaran. Kesepakatan ini melibatkan murid dalam merumuskan apa saja yang diyakini baik untuk kegiatan pembelajaran kimia, tentang bagaimana sebaiknya guru dan murid hadir di kelas, tugas yang dikerjakan, dan bentuk kegiatan belajar yang menyenangkan. 

Bentuk cuplikan kesepakatan kelas bersama murid yang telah dilakukan dapat dilihat melalui video berikut.


Salah satu upaya untuk membantu murid terlepas dari masalah atau pelanggaran kesepakatan kelas adalah dengan melakukan restitusi. Guru memposisikan dirinya sebagai manajer bagi murid untuk berbuat sesuatu bersama dengan murid, mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri. Seorang manajer telah memiliki keterampilan di posisi teman maupun pemantau, dan dengan demikian, bisa jadi di waktu-waktu tertentu kembali kepada kedua posisi tersebut bila diperlukan. Namun bila kita menginginkan murid-murid kita menjadi manusia yang merdeka, mandiri dan bertanggung jawab, maka kita perlu mengacu kepada Restitusi yang dapat menjadikan murid kita seorang manajer bagi dirinya sendiri.  Di manajer, murid diajak untuk menganalisis kebutuhan dirinya, maupun kebutuhan orang lain. Disini penekanan bukan pada kemampuan membuat konsekuensi, namun dapat berkolaborasi dengan murid bagaimana memperbaiki kesalahan yang ada.

Skenario restitusi pada murid yang mengalami masalah dapat dilihat melalui video berikut.

Meskipun hanya sebuah skenario, namun mampu memberi rasa yang baik dalam diri pemain (guru dan murid).



    Gambar 2: Pemain Peran Restitusi

Setelah mencoba melakukan penerapan kesepakatan kelas untuk menumbuhkan keyakinan kelas yang merujuk pada nilai-nilai kebajikan universal dan melakukan restitusi atas masalah yang dihadapi murid, selanjutnya saya dan teman-teman calon guru penggerak pada tanggal 26 Agustus 2022 menghadap kepala sekolah guna konsultasi tentang pengimbasan atau sosialisasi budaya positif kepada teman-teman kerja.

Bersama teman, kami sepakat untuk memberikan informasi betapa baiknya budaya positif ini jika benar-benar bisa diwujudkan dalam lingkungan kerja, yang imbasnya nanti akan menyebar dalam diri murid juga keluarganya dan lingkungannya yang lain. Kepala sekolah sangat mendukung dan mengapresiasi niat baik kami ini dengan memfasilitasi kegiatan yang dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 2 September 2022 dan hari Selasa tanggal 6 September 2022 sesuai dengan kelompok yang dibentuk. 



   Gambar 3: Konsultasi dengan Kepala Sekolah

Selanjutnya kami berlima menetapkan kelompok kecil untuk menerapkan dan mensosialisaikan budaya positif dan berbagi praktik baik kami kepada teman-teman. Sambutan dan apresiasi mereka sangat luar biasa dengan mengikuti kegiatan dan aktif dalam proses tersebut. 



   Gambar 4: Sosialisasi Budaya Positif dan Berbagi Praktik Baik

Berikut ini video aksi nyata sosialisasi budaya positif dan berbagi praktik baik yang telah dilakukan.


Hasilnya dapat terlihat dari pemahaman teman terhadap budaya positif dan usaha mereka mencoba membuat skenario restitusi terhadap masalah murid yang terjadi. Mari kita upayakan diri kita selalu tergerak dengan upaya yang baik, bergerak, dan menggerakkan dengan sekuat tenaga. Tuhan pasti memampukan kita.


                                                                          *** 



Komentar